MENU TAB

Tampilkan postingan dengan label maxi murah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maxi murah. Tampilkan semua postingan

26 Feb 2014

Beda Hijab, Jilbab, Khimar & Kerudung

   
#Hijab menurut Al Quran artinya penutup secara umum, Allah SWT. dalam surat Al Ahzab ayat 58 memerintah kepada para shahabat Nabi Saw
    Ada waktu mereka meminta suatu brg pd istri Nabi Saw utk memintanya dari balik hijab. Jadi, #Hijab berarti umum, bisa berupa tirai pembatas,dll
    Sehingga memang terkadang kata #Hijab dimaksudkn utk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adl sesuatu yg mnutupi atau menghalangi dirinya
    #Hijab biasa juga digunakan sebagai pembatas interaksi saat sedang syuro. Pernah lihat ada yg rapat dgn menggunakan #Hijab? :’)
    #Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu. :’)
    Dlm hal ini Syaikh Al Bani rahimahullah mgatakan, “Setiap #Jilbab adalah #Hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yg tampak.”

    lanjut ke #Jilbab. Hal ini tertuang dlm perintah Allah > Al-Ahzab ayat 59 “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke sluruh tubuh mereka…”
    Secara terminologi, dalam kamus yang dianggap standar dalam Bahasa Arab, akan kita dapati pengertian #jilbab seperti berikut :
    “ #Jilbab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepada, dada dan bagian belakang tubuhnya.”
    Dapat kita ambil kesimpulan bahwa #jilbab pada umumnya adalah pakaian yang lebar, longgar dan menutupi seluruh bagian tubuh :’)
    Sebagaimana disimpulkan oleh Al Qurthuby: “Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.” Kecuali Wajah dan telapak tangan :’)
    Adapun #jilbab dalam surat Al-Ahzab (33) : 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.
    Sudah terlihat jelas Shalihat, perbedaan antara #Hijab dan #Jilbab? Maka kembalikan pada kata asalnya dlm Al-Ahzab : 59. Berjilbablah :’)

    Kemudian #Khimar, ini yg biasa disebut dgn #Kerudung. Perintah Khimar terdapat dalam QS An-Nur ayat 31. Buka yuk :’)
    #Khimar atau kerudung adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan dada tanpa menutupi muka (Al-Baghdadiy, 1991)
    Jadi jelas perbedaan antara #Hijab, #Jilbab & #Khimar / #kerudung.. yg masih belum longgar & menutup seluruhnya brarti baru berkhimar :’)
    Karna #Jilbab tak sekedar penutup kepala hingga menutupi dada, ia melindungi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan :’)

Sekian Shalihat sharing ttg #Hijab, #Jilbab, #Khimar & #Kerudung. Semoga bermanfaat. Yg benar dari Allah, yg salah dari saya *istighfar* :)

artikel ini dulu saya copas dari blog atau kultwit waktu itu -lupa - untuk bahan pemahaman pribadi. tadi nemu di laptop dan saya share saja. sayang sumbernya ga ada ya. semoga bermanfaat. 

28 Des 2013

Hijab ku


nama aku novi. Aku pertama kali benar-benar menggunakan hijab waktu aku kelas 3 sma pas bulan desember. Sebelumnya si aku juga udah menggunakan hijab tapi, hijab ku hanya digunakan di waktu sekolah. Aku juga sempat menyesal menggunakan hijab. Aku pikir menggunakan hijab itu tidak bebas melakukan suatu kegiatan Dan terbatas dari ruang gerak. Aku pernah berfikiran untuk melepas hijab. Lambat laun setelah aku mengikutin acara pesantren kilat. Setelah kegiatan itu semua pemikiran aku berubah. Ntah apa yang terjadi hijab terasa adem saat digunakan. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَِ sampai saat ini aku menggunakan hijab.


Indri Novianty devi kebayoran

Tiga Bulan yang Tak Mudah

Seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan lain, perjalanan saya untuk berhijab tidak mudah. Itu hampir 20 tahun lalu, ketika orang berjilbab kelihatan aneh bagi sebagian orang, termasuk dalam keluarga saya.

Lembar dan pecahan koin sisa uang saku yang saya kumpulkan berhasil membuat saya mengoleksi 5 buah blus lengan panjang dan beberapa rok, kulot, juga beberapa lembar jilbab.

Bahagianya saya ketika pada tanggal 17 Maret 1994 saya katakan kepada kedua orangtua bahwa saya akan berjilbab. Kali ini saya tak minta izin lagi. Tak perlu lagi saya minta izin, begitu pikir saya. Toh, saya yang akan mempertanggungjawabkan diri saya kelak di akhirat. Jadi kedua orangtua hanya mendapat pemberitahuan dari saya dan mereka tak berkata apa-apa lagi karena sudah tahu kekerasan hati saya.

3 bulan pertama berjilbab bukan hal yang mudah. Saya harus melewati hari demi hari, melawan gerahnya kota ini. Jam kuliah terasa panjang. Untung kami, para jilbaber punya tempat berkumpul yang aman dan untungnya juga, kampus Tamalanrea masih terasa sejuk. Sampai di rumah pun, saya tetap harus berjilbab kecuali di dalam kamar atau saat seorang adik sepupu laki-laki yang tinggal bersama kami sudah keluar rumah.

Yang paling sulit dilawan adalah keinginan untuk membuka jilbab! Entah kenapa selalu ada keinginan yang teramat besar untuk segera melepas jilbab yang baru seumur jagung saya kenakan. Di dalam diri saya terasa ada 2 kekuatan yang bertarung: kekuatan malaikat dan kekuatan setan!

Sepanjang lebih 90 hari itu saya lalui bersama hantu yang bergentayangan di dalam jiwa. Hantu yang tak hentinya menggelisahkan batin. Ia begitu menyebalkan! Tapi bisikan malaikat yang senantiasa menghibur, mengingatkan dengan gigih tentang kewajiban berjilbab bagi muslimah. Saya pun berusaha melawan hantu itu dengan mengingat-Nya.

Ajaib, lewat 3 bulan saya menemukan kedamaian. Hingga sekarang, setelah 20 tahun, saya tak pernah menyesal karena hijab membuat hati saya tenteram.



Mugniar Marakarma Makassar

Keraguan Di Awal Berhijab

Assalamualaikum semua saya akan menceritakan saat pertama kali saya berhijab. kini saya sudah memakai hijab selama 4 tahun. alasan saya memakai hijab alhamdulillah lillah karena allah ta`ala. awalnya sebelum untuk memutuskan berhijab saya tampak ragu, apakah ketika berhijab nantinya selain luar yang saya hijabi mampu juga menghijabi bagian paling dalam (hati) takutnya tidak imbang. mencoba untuk memantapkan diri saya untuk berhijab dengan cara mengumpulkan dukungan kuat, langkah yang saya ambil adalah membuka hadist yang mengatakan kalau seorang muslimah diwajibkan untuk mengenakannya, yang kedua orangtua mendukung dengan apa yang lakukan. dan setelah beberapa hari memikirkan dan memantapkan hati, akhirnya dengan kehendak allah, saya rubah penampilan saya yang biasa pakai lengan pendek dan celana pensil dan ketat menjadi seorang muslimah sejati walaupun terkadang penghalang utama saat mengenakannya kepanasan. tetapi lambat kemudian sudah terbiasa dengan keadaan yang ada. orang2 yang biasanya ngejahilin saya dengan kurang ajar, malah sopan menyapa "Assalamualaikum" subhanaallah luar biasa makna menggunakan hijab ini kalo dari hati. apalagi sekarang dijaman modern ini hijab sudah tidak lagi kuno hijab sudah menjadi trendy masa kini. dan malahan kalau tidak berhijab rasanya aneh kayak bukan diri saya.
itulah pengalaman saya ketika memulai hijab untuk pertama kalinya. semoga dengan cerita saya ini bisa membuat para muslimah yang belum berhijab bisa terdorong untuk memakainya.



Indah Rizki Hariani Banyuwangi 

Kado Untuk Allah

Assamualaikum . . . Ini sedikit cerita ketika aku memutuskan memakai jilbab . Sebenarnya sudah dr duduk di kursi SMA aku pengen berhijab , karena temen sebangku aku berjilbab , tp belum ada keberanian , tetapi untuk setiap mudik ke kampung atau kondangan aku suka mengenakan jilbab . Tanggal 16 juni 2013 aku menikah (manten bayu) , punya impian kalo sudah menikah aku mau menutup aurat , suami sih mendukung , tapi karena ekonomi yang masih labil(:D ƗƗέ..ƗƗέ..ƗƗέ..​ (ړײ ) ) aku belum bisa untuk beli2 keperluan berhijab .
Kami tidak menunda untuk mempunyai anak , promil sdh dijlnkan tp belum jua dipercaya sm Allah . Sedikit tegang karena sudah 4bln berjalan . Tanggal 05 nov 2013 bertepatan tahun baru Islam sebelum ngambil wudhu untuk subuhan aku test pack "iseng2" padahal baru 3hari telat , ehh muncul 2garis merah "ini sich iseng2 berhadiah" aku langsung kasih tau suami aku dan aku langsung aja bilang "a' aku mau pakek jilbab besok ngantor" iya katanya sambil meluk aku . . Emmm besoknya aku ngantor temen kantor pada aneh "aku bilang kado tahun baru dari Allah aku positif hamil dan aku juga harus kasih kado buat Allah dgn menutup auratku" alhamdulillah . Sekarang kandunganku sehat jln 5bulan , semoga lancar sampai melahirkan . Aamiin . .



 Yeni Fitriana Baturaja

27 Des 2013

Pakai Jilbab Itu Adem

Assalamu 'alaikum wr. wb.
Saat memakai jilbab pertama kali, sebenarnya saya lupa kapan tepatnya. karena memang dari kecil sudah dibiasakan oleh ibu saya untuk memakai jilbab. tapi namanya anak TK-SD, kalo panas ya dilepas lagi. hingga suatu hari saya ingin memakai jilbab dengan kemauan saya sendiri. saat kelas 5 SD, pertama kali haid. saat itu ibu berpesan "kalau pakai jilbab, ada 2 keuntungannya. pertama, di dunia pasti adem, karena tertutup dari panas matahari dan dinginnya hujan. kedua, di akhirat juga adem, karena terlindungi dari panas api neraka". mulai dari kata-kata ibu saya itu yang membuat saya yakin utk memakai jilbab, di mulai dari sekolah, main ke rumah teman, acara-acara keluar, selalu saya coba utk pakai jilbab seperti ibu saya. insya Allah semoga nantinya tetap bisa istiqomah berjilbab.
Wassalamu 'alaikum wr. wb.



Irham Nisaur Rohim Yogyakarta

Belum Paham Awalnya

Pertama kali pakai jilbab saat itu usia saya masih 12 tahun,kelas 1 Mts dan memang karena diwajibkan oleh pondok memakai jilbab. Waktu itu belum ngerti sih alasan logisnya, tapi dengan berlalunya waktu dan makin dewasa makin mengerti bahwa tujuan wanita berjilbab adalah menjalankan perintah agama dan menjaga kehormatan dirinya.
Cobaan memakai jilbab itu datang ketika keluar dari pesantren, kebetulan waktu itu saya pindah ke SMU yang tidak diwajibkan memakai jilbab diluar jam sekolah. Tapi Alhamdulillah saya tetap bisa bertahan dengan jilbab saya, hingga saat ini.. Alhamdulillah ^^



maria ulfa Bogor

Awalnya Masih Lepas Pasang

inget banget pertama kali memutuskan berhijab ketika akhir-akhir kelas 5 SD mau naik ke kelas 6 SD. Ketika itu, niat berhijab hanya karena janjian sama dua sahabatku. Setelah minta izin orang tua, akhirnya kelas 6 SD resmi pakai hijab. Karena sudah kelas 6 SD, ayah sama ibu nggak membelikan seragam baru dengan lengan panjang. Akhirnya sekolah pakai rok yang kebetulan “sudah agak panjang” dan atasannya pakai seragam pendek dan dekker. Pakai hijabnya pun kayaknya masih “lepas pasang”, kalau sekolah pakai hijab.. kalau les nggak pakai. Ketika lulus SD, akhirnya aku memutuskan untuk nggak mau lepas pasang karena udah mulai merasa nggak nyaman ketika nggak pakai hijab atau pakai baju yang “agak terbuka”. Tahun berganti tahun, sampai Allah menakdirkan aku untuk masuk Madrasah. Nggak ada lagi kesempatan untuk tidak berhijab, karena sekolah atau kegiatan lain harus berhijab. Makin dewasa aku makin bersyukur sama Allah sudah ditakdirkan memakai hijab sejak kecil. Nggak pernah ada ruginya. Sekarang banyak orang yang belum berhijab karena merasa belum siap, sekali lagi aku pribadi bersyukur diberi kesempatan berhijab sejak kecil sehingga makin kesini makin terbiasa. Hijab justru yang menuntun kita kepada perilaku yang lebih baik dan menyelamatkan kita dari hal-hal yang tidak menyenangkan.


Tika Desianawati Sidoarjo

Setelah Berhijab

Aku niisa, aku pake hijab baru 2 tahun yang lalu. Tepatnya pas kelas 2 Smk, aku sekolah di sekolah teknik yang rata-rata muridnya itu cowok sedangkan ceweknya itu ya Cuma sedikit, di kelasku aja Cuma ada 7 cewek termasuk aku. Cewek di kelasku semuanya berhijab jadi aku agak gimana gitu kalau lagi di kelas, udah gitu ya Sebelum pakai hijab aku cukup aktif di luar sekolah ikut dance-dance dan cosplay anime gitu karena kesukaanku sama jepang dan k-pop,sampai – sampai aku sempet mikir kalau pake hijab kan semua jadi terbatasi aku gak bisa lagi ikut dance atau bercosplay lagi dong?. Tapi pas sekarang udah pake hijab fikiran-fikiran itu berlalu, soalnya walaupun aku gak bisa ikut serta dance atau cosplay lagi ya aku masih bisa liat. Awalnya aku pake hijab tuh karena temen-temen di sekolah rata-rata pake hijab, jadi agak risih juga kalau lagi jalan sama mereka. Belum lagi ada beberapa senior yang berhijab sinisin aku, jadi makin gak enak aja aku, pas awal berhijab sempet diledekin juga sama beberapa temen cowok sekelas aku katanya Cuma ikut-ikutanlah, ya walaupun faktor utama karena gak enak aja di sinisin tapi aku tetep kuat sama pendirian ku untuk berhijab dan makin semangat buatku memperbaiki diri. Makin kesini aku di ajakin sama temen buat ikut acara yang berhubungan sama hijab sampai sadar kalimat “hijab itu bukan sebuah kebutuhan tapi sebuah keharusan” . Yaa pokoknya setelah berhijab tuh semakin banyak perubahan yang ada di diri aku, aku juga berusaha jaga sikap sampai temen aku bilang “niisa berubah banget ya” bukan Cuma dari segi penampilan tapi juga sikap, hehehe. jadi aku berterima kasih sama mereka yang sinisin aku, mungkin Allah memberiku hidayah melalui mereka.


Annisa Pramoedita Bekasi

Hijab Pertamaku Karena Keadaan

Wow....tak sengaja aku membuka sebuah blog yang lagi mengadakan giveaway. Dan lebih wow lagi saat tema giveaway-nya "My First Hijab Moment". Jadi ingat awal mulanya aku berhijab. Hihihi...lucu bila mengenang masa-masa itu.

Yah...empat tahun sudah aku berhijab. Bukan berarti aku tak mendapatkan penolakan. Suamiku terbelalak saat melihat pertama kalinya aku berhijab. Ia bahkan geleng-geleng kepala dan nyaris tak percaya. Aku yang sehari-harinya berdandan ala cowok tiba-tiba mendadak alim. Apalagi dia tak suka dengan perempuan berhijab yang terlihat kurang modis.

Lantas kujelaskan tentang maksud dan tujuanku berhijab, tak lain hanya karena Allah semata, lama-lama ia mengerti dan mau menerima keadaanku. Bukan hanya itu, anakku yang kala itu masih TK tiba-tiba marah melihat penampilanku berubah. Bahkan ia sempat meronta dan ngambek tidak mau sekolah. Namun akhirnya ia mengerti juga

Padahal ibu-ibu di kompleks lebih suka aku berhijab. Memang aku berhijab karena keadaan. Dulu aku pernah dijadikan bahan percobaan ibu-ibu di kompleks. Rambutku di potong sangat pendek. Tanpa kuduga, sehari setelahnya tiba-tiba aku mendapat tugas untuk menghadiri perayaan Hari Ibu di kantor gubernur Papua. Aku wajib berkebaya dan bersanggul. Wihhhh....bagaimana bisa bersanggul kalau rambut sudah cepak?

Lantas aku menyulap dandananku dengan berhijab. Tapi memang wajah tak bisa disembunyikan, semua mata yang mengenalku tiba-tiba nyeletuk....
"Hah...ibu sudah berhijab, syukur ya alhamdulillah. Atau...hanya dalih saja agar tidak bersanggul?"
Aku hanya mesam mesem.

Bukan hanya itu. Setiap hari ulang tahun Persit (maklum istri tentara nih) wajib memakai kebaya dan bersanggul. Bukan main ribetnya. Aku harus bangun pagi-pagi, ngantri disanggul, belum ini itu. Pokoknya waktuku kedodoran.

Dari situlah aku memutuskan berhijab. Meski awalnya semua kulakukan karena keadaan, tetapi alhamdulillah kini aku semakin menyadari bahwa berhijab adalah sebuah kewajiban. Akupun bersyukur karena suami dan anakku mau menerima keadaanku, bahkan kini mereka makin mencintaiku. Semoga aku tetap syari’ dalam hijabku demi mendapat ridhoNya. Amin.



Sri Wahyuni Blitar

Berjilbab belum terlambat

Ada yang mengatakan terlambat itu akan menyesal kemudian. Tapi tidak dengan taubat, karena Allah Maha Pengampun menerima taubat siapapun.

Ini kisah tentang Ibuku.
Ibu yang biasa ku sapa akrab Emak ini memang tak pernah berkerudung sejak aku masih kecil. Meski begitu dulu saat ayahku masih hidup ibuku hanya memakai penutup kepala yang tak menutupi leher. Seperti topi atau dalaman kerudung biasa. Namun tidak dilanjutkan karena pernah disindir orang seperti tukang bawang atau penjual bawang di pasar.

Sejak itulah ibuku memilih tidak melanjutkan berkerudung. Namun saat usiaku mulai dewasa dan meninggalkan bangku SMA tepatnya tahun 2010 aku sudah menyuruhnya untuk memakai kerudung.
Aku anak perempuan pertama yang memaksa kondisi ibuku memakai kerudung, bukan karena apa, pada saat itu ibuku rambutnya sudah beruban. Bagaimana tidak, ketika uban sudah menyumbul diantara rimbunnya rambut hitam lurus lainnya.

Dengan jengkel aku kadang mengingatkannya agar ia tidak lupa memakai kerudung. Sampai pada akhirnya kusadari pemaksaan yang kulakukan berbuah manis. Ku sering menasehatinya perlahan, dan kusebutkan dosa-dosa yang akan ditanggung kelak jika tidak menutup aurat.
Meskipun begitu yang namanya ibu tidak bisa dipisahkan dari daster. Tapi ia tetap memilih daster berlengan panjang dan kerudung warna polos untuk melengkapi pakaian taqwanya. Hingga suka duka dilalui, meski panas terasa ujian ini akan terasa sulit jika tak istiqomah.
Suatu hari tepatnya tahun 2012 ibuku bertemu dengan seorang ibu setengah baya yang tak lain tetangga lama yang usianya lebih tua di atas ibuku. Beliau bertanya tentang kerudung yang tak pernah lepas dari ibuku.
Pertanyaanpun menyeruak karena penasaran penyebab utama ibuku tak pernah lepas kerudung.

“emangnya banyak ubannya ya bu pakai kerudung melulu, gak panas?”
Dengan santai dan tersenyum lebar ibuku mengatakan secara halus.

“enggih bu, katah niki ubane. Malulah sama umur juga, yang muda berjilbab saya tidak? Panas emang bu, ya mau bagaimana lagi. Katanya dosa kalau tidak memakai kerudung”
“oh” jawabnya datar dengan ekspresi wajar tersenyum getir.

Alhamdulillah, yang tua bukan berarti menjadi halangan untuk tetap meraih ampunanNya.
Dan aku sadar, saat ibuku belum berjilbab. Ibuku disindir bahkan dihina oleh seorang bapak-bapak yang suka mengimami di masjid. Beliau menyindir keras saat ibuku keluar rumah tanpa jilbab dengan rambut terurai basah.

Ibuku merasa sakit hati, tapi kenyataan itu memang masih menoreh luka baginya dan diceritakan kepadaku. Lambat laun ibuku justru menjadi semakin membaik terima kasih atas sindiran yang pedas itu. Namun satu hal yang membuatku merasa aneh, sedangkan isteri imam masjid itu malah saya pernah melihat memakai celana pendek dengan rambut dikepang dua keluar rumah ke tetangga. Dan menantunya yang perempuan tak berani disindirnya untuk menutup aurat. Wallahu’alam.
Selagi ada waktu ayo cepat mendekat, karena berjilbab bukan halangan untuk kita tetap menjadi manusia yang seutuhnya dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin.

Muslimah itu tetap berjalan menuju titian cahaya
Meski kerut marut telah merunggut masa muda Allohu Akbar tak ada halangan untuk meraih ridho dan ampunanNYA


enggih bu, katah niki dibaca : Iya bu, ini banyak ubannya.

ANNUR KARIMAH Tegal

Diawali Seragam Putih Biru

Awalnya saya mengenakan mahkota kain ini sejak duduk dibangku SMP. Jilbab katun segi empat berwarna putih dengan bordiran bunga di sekelilingnya menjadi jilbab (sekarang lebih dikenal dengan istilah hijab) pertama saya. Masih teringat dengan jelas di ingatan saya, sebelum berangkat ke sekolah esok paginya, saya sudah sibuk ria setrika jilbab setiap malam dengan harapan esok saya sukses memakai jilbab dengan rapi. Saya menghabiskan waktu 15 menit di depan cermin untuk bisa memutuskan hasil lipatan jilbab yang terakhir merupakan gaya yang menurut saya ‘the best’ dan rapi waktu itu. Waktu yang cukup singkat buat saya yang newbie dan waktu yang lama dan bahkan berlebihan jika dibandingkan anak SMP zaman sekarang. Keputusan untuk akhirnya memakai jilbab berdasarkan saran dari kakak tertua saya sendiri. Kakak menyarankan agar saya memakai jilbab jika ingin melanjutkan sekolah di tingkat SMP atau jika tidak memilih untuk masuk sekolah tsanawiyah saja yang memiliki kewajiban untuk mengenakan jilbab ke sekolah. Saran itu juga didukung oleh ibu dan bapak. Sebagai anak yang gak neko-neko, saya fine2 aja untuk mengenakan jilbab ke sekolah meskipun seminggu sebelum ibu membeli seragam sekolah, terkadang ajakan teman untuk tidak mengenakan jilbab juga mengusik dan menarik hati. Pakai pita rambut warna warni, model rambut yang berbeda setiap harinya, atau sekedar diurai menjadi sebuah ke-seru-an dan kebiasaan saya sejak TK. Dan sejak hari pertama masuk sekolah kelas 7, jilbab menjadi bagian penting dalam keseharian saya. Alhamdulillaah.. sekarang hanya butuh 1-3 menit untuk mengenakan jilbab rapi. Memang benar pepatah yang menyebutkan, ala bisa karna biasa. Di kelas 11 saya diberi hidayah bahwa mengenakan jilbab merupakan suatu kewajiban bagi perempuan yang sudah mengalami menstruasi. Seiring waktu mendewasakan, jilbab bukan hanya sebuah kewajiban tetapi juga menjadi kebutuhan bagi setiap perempuan islam untuk menjadi pelindung yang memberi banyak keuntungan yang tidak hanya bagi kaum perempuan itu sendiri. 

Desi Namora Bogor

Bukan Hanya Saat Bun Puasa

Iseng-iseng yang membawa hidayah Assalam'ualaikum. Nama saya Ria Aghnesia umur 21tahun, saya menggunakan hijab saat masih duduk dikelas 3 SMA tepatnya bulan ramadhan. Jujur yah awalnya saya belum ada niat untuk menggunakan hijab hanya sebagai iseng2 aja kok ke sekolah hehe. Tapi ibu dan abang menyambut baik loh dengan saya menggunakan hijab, apalagi pacar (dulu sekarang udah gak kok):D mendukung banget secara masih keturunan orang Pakistan tapi dengan logat Jawanya haha. Pertama kali saya ke sekolah dengan menggunakan hijab agak sedikit gag pede terus malu karena temen-temen pasti kaget dan bingung liat perubahan saya ini. Akhirnya temen sekelas saya pun nanya “yak lo pake jilbab untuk selamanya atau cuman bulan puasa aja sih?” ada juga yang bilang “cantik loh yak pake jilbab” dan masih banyak lagi lah pokoknya yang nanya blablablablablablablablablablabla……….……. Terus saya cuman bisa senyum doang soalnya kan bingung mau jawab apaan geh hehehe. Tapi lama kelamaan kok saya jadi nyaman banget loh dengan menggunakan hijab. Setelah semingguan berlalu salah satu guru fisika berdialog dengan saya dan memberikan saran. Dan dia bertanya “Ria udah lama pake jilbabnya?” saya menjawab “baru bu awal puasa” , beliau kembali bertanya “kenapa ria sekarang milih pake jilbab?” dan saya jawab “hehe………..mau nutup aurat bu kan lagi bulan puasa sekalian nyari pahala loh bu” lagi lagi si ibu guru nanya lagi “berarti apa ria pake jilbab cuman bulan puasa aja gitu?” dan lagi lagi saya pun hanya tersenyum saja dan cuman menjawab “gag tau bu ria masih bingung soalnya”. Dengan mendengar jawaban saya tadi, Bu Alel (nama guru fisika) menyakinkan agar saya tetap menggunakan jilbab untuk seterusnya dengan cara memberikan saran bahwa “ria terusin aja pake jilbab nya pokoknya jangan dilepas dulu sampe bulan puasa selesai setelah itu terserah ria kalau belum siap gpp dilepas aja tapi itu semuanya ada di ria kok. Oh ya pake jilbab itu enak tau disayang Allah, Ria tau gak kalau memakai hijab itu merupakan kewajiban bagi setiap wanita, menghindarkan diri dari perbuatan tercela, memelihara rasa malu dan masih banyak lagi keuntungan menggunakan jilbab lohh”. Setelah itu saya merenung dan memikirkan bahwa tindakan yang saya ambil nanti merupakan yang terbaik untuk di dunia maupun diakhirat. Maka dari itulah Akhirnya saya memilih untuk menggunakan hijab sampai sekarang dan untuk selamanya, dan sebagai kado untuk ayah.

Ria Aghnesia Bandar Lampung

JILBABKU GERAKAN PERUBAHANKU

Hani begitulah orang memanggilku , tapi sebenarnya nama lengkapku Siti Hanifah.sekarang aku duduk dikelas 3 SMA. Sedikit pemberitahuan , aku merupakan sosok yang jauh dari kata feminim , bisa dibilang aku ini tomboy . sehingga memakai jilbab tidak pernah terbesit dalam pikiranku. Dulu ketika SD , SMP sampai SMA kelas 1 aku tidak memakai jilbab. Bisa dibilang anti jilbab. Pernah suatu hari ketika aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP aku di hukum dan di ceramahi oleh Guru agama dikarenakan aku tidak memakai kerudung saat pelajaran berlangsung. Sebagai hukumannya , aku dikelilingi oleh teman-temanku dan mereka menyenandungkan ayat-ayat ‘’ ASTAGFIRULLAH ROBBAL BAROYA”
Pengalaman yang sangat memalukan, padahal aku ini muslim yah, tapi kenapa memakai jilbab saja tidak mau? Namun berkat kekuasaan dan hidayahNya , aku tidak lagi anti memakai jilbab. Salah satu motivasi yang membuatku memakai jilbab sampai saat ini karena motivasi kekompakan. Aku mengikuti organisasi Pramuka di daerahku dan semua anggota putri memakai kerudung. Hanya aku dan salah satu temanku tidak memakai jilbab. Karena malu dibilang beda sendiri akhirnya aku memakai jilbab.
Awalnya aku terpaksa ,namun lagi-lagi Allah memberikan hidayahNya sehingga sampai saat ini aku memakai jilbab. Meski terkadang aku tidak pede ketika memakai jilbab di kreasikan atau istilah modern nya hijab .Mungkin Karena sifat kelaki-lakianku masih terlihat sehingga masih merasa canggung Tapi alhamdulilah sekarang aku tidak separah dulu. Setidaknya sejak aku mengenakan jilbab aku lebih sopan dalam bertutur kata, tingkah , serta tidak dipandang urakan oleh orang lain. Memakai jilbab bisa menaikan derajat seorang wanita muslim dimata laki-laki. so, Awali dari niat dan jadikan jilbab sebagai Gerakan perubahan wanita muslim menjadi wanita yang lebih baik 



siti hanifah Bogor 

Hijab Menjagaku

    Assalamualaikum.Wr.Wb
Barhijab merupakan kewajiban setiap muslim, untuk menutup aurat. Sejak lahir berada di lingkungan yang berhijab, namun tidak pernah ada keinginan untuk berhijab. Ketika Sekolah Dasar, aku dihadapkan dengan sebuah realita bahwa telah menginjak baligh. Semua menjadi berubah, tampil cantik dan menawan dengan uraian rambut dibalut dengan busana berubah menjadi tertutup. Hanya jari-jari tangan dan kaki serta wajah yang terlihat.
Pertamakali berhijab ketika aku duduk Sekolah Dasar kelas 3. Memulai berhijab saat aku berpergian jauh,awalnya memang terasa malu. Namun ketika berada di tempat yang banyak kaum adam, timbul rasa terlindungi dan dihormati kaum adam. Hati aku semakin mantap untuk menutup aurat. Aku juga mencoba untuk berhijab saat berada di rumah. Rasa nyaman dan terlindungi membalut menjadi satu. Selalu ingat bahwa aku telah baligh, suka tidak suka aku harus menutup aurat .Perkataan bapak aku yang tidak pernah aku lupakan “Jika kamu ingin selamat di dunia dan akhirat, mulailah dari hal yang kecil. Contohnya menutupi aurat dimanapun kamu berada”. Perkataan itulah yang mengetuk dan memantapkan hati aku untuk menutupi aurat. Aku takut tidak maksimal berbuat baik di dunia, setidaknya di dunia mengurangi jumlah maksiat.
Berhijab dengan sangat sederhana merupakan awal perubahan. Busana panjang menutup aurat membalut tubuh, perbedaan warna yang sangat mencolok menjadikan kenangan yang sulit untuk dilupakan. Tertawa dan malu jika harus mengenang. Namun seiring berkembangnya zaman, perlahan mengenal gaya berbusana yang masih islami. Semakin menyemangati aku untuk selalu tampil cantik dengan berhijab.
Ketika berhijab banyak orang menghujat, dengan perkataan yang tidak menyenangkan. Usia 9 tahun yang cukup terbilang belia, harus menerima tumpahan kata-kata yang cukup menguras pikiran. Namun perkataan itu hanyalah menjadi sebuah batu kerikil perjalanan aku untuk menuju surga Allah. Usia 9 tahun tidak banyak yang aku ketahui,perlahan demi perlahan hati ini semakin yakin dan kuat untuk berhijab.
Wassalamualaikum.Wr.Wb

Ata Sulfiani Pamekasan 



Semakin Terjaga dengan Berhijab

Ukhti, banyak hal yang kurasakan ketika mulai berhijab, hatiku semakin tentram, nyaman, damai, dan semakin terjaga dalam bersikap dan bertutur kata. Orang-orang disekitarku pun memperlakukan diriku dengan santun. Allah benar-benar menjagaku dimanapun saya berada. Dengan Hijab, kebaikan-kebaikan didunia kita diberkahi Allah, apalagi jika sudah di akhirat kelak, kita akan berada pada golongan orang-orang yang sama berhijab. Amin :)

Faidah Pata makassar

Hijab Untuk Perubahan yang Lebih Baik

Awal aku mengenakan hijab adalah di usiaku yang ke 18 tahun. Setelah lulus dari SMK dan bekerja di sebuah Home Industri. Aku bekerja sebagai desain grafis. Sekitar 2 bulan pertama bekerja, aku masih belum menggunakan hijab. Hingga pada 16 Juli 2011, sebelum berangkat kerja aku menatap diriku di cermin. Tepat di usiaku yang ke 18 tahun ini, “Kenapa tidak ada yang berubah dalam diriku? Lihat, apa yang kamu harapkan dengan mengumbar auratmu di luar sana? Agar terlihat cantik? agar laki-laki memandangmu? Apa kamu tak sadar betapa besar dosa yang telah kamu lakukan? Ya Allah ampuni aku.”

Saat itulah, tiba-tiba ada kemantapan yang datang secara tiba-tiba untuk benar-benar total mengenakan hijab. Ya, dalam hidup harus ada perubahan ke arah yang lebih baik. HARUS. Ku ambil sebuah kerudung dan satu-satunya kerudung di rumahku. Sebuah kerudung instan berwarna abu-abu. Ku cari baju lengan panjang yang berwarna abu-abu juga dan Celana yang tidak ketat tentunya. Itulah jilbab pertama yang aku kenakan. Tetapi ternyata tak semudah yang aku kira. Saat sampai di kerjaan, bos ku tak mau memandangku sama sekali. Aku heran, aku bingung apa salahku? Baru setelah beberapa minggu kemudian, aku diberitahukan oleh staff admin disitu bahwa “Disini, gak boleh pake jilbab nes. Coba lihat apa kamu pernah menjumpai wanita berhijab di kerjaan ini? Gak kan?”

Tetapi aku nekat karena sudah mantap dengan niatku. Tak apa aku dipecat, aku ikhlas, karena yang memberiku rejeki adalah Allah. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, bos ku mulai luluh, dan mau menerimaku aku dan hijab ku. Sampai kemudian peraturan itu berubah. Alhamdulillah, sejak saat itulah teman dekatku ikut berhijab saat bekerja. Dan bos ku tak mempermasalahkannya. Dan aku juga mempunyai teman baru lagi dengan hijabnya juga tentunya. Sekarang hijab tak lagi asing disitu. Sejak saat itulah aku terus berusaha memperbaiki diriku, akhlaqku dan menyempurnakan hijabku.



Agnes Dwi Radiktiani Semarang

Teguran dari Surga


Randi adalah teman sekelasku yang paling jahil kepadaku. Sering dia menjahiliku dengan menarik ikat rambut yang kukenakan, mecabut bandana di rambutku sampai menyembunyikan sisir yang ada didalam tasku. Seringnya aku marah kepadanya karena perlakuan jahilnya, namun Randi tetap saja tidak pernah mau berhenti menjahiliku.
Sampe pada suatu saat, kejahilan Randi sudah benar-benar kelewatan. Dia menempelkan permen karet pada rambutku. Aku kesal dan marah bukan main. Aku berusaha keras melepaskan permen karet yang tanpa aku sadari telah berada lama dirambutku, namun semuanya hanya sia-sia. Satu-satunya cara adalah dengan memotong rambutku. Aku menangis tanpa henti mengingat rambut panjang indahku yang selama ini ku rawat harus dipotong.
***
Sore itu sepulangku memotong rambut di salon, Rendi datang kerumahku membawakan aku sebuah bingkisan yang dibungkusnya rapih, dia berkata kepadaku bahwa kado itu adalah bentuk permintaan maafnya kepadaku atas semua kesalahannya. Dengan rasa sedikit tenang dari amarah aku pun membuka bungkusan kado itu, aku sangat berharap bila hadiah yang dia berikan sebanding dengan kesalahannya.
Setelah aku melihat isi bungkusan kado, akupun dibuatnya kaget bukan main. Kado itu berisi sebuah Jilbab berwarna merah muda. Bukan isi dari hadiahnya yang membuat aku kaget, tapi siapa orang yang telah memberikan kado ini. Ya, Rendi temanku ini adalah bukan seorang muslim.
“Kata orang, wanita muslim itu kan harus wajib pake jilbab, jadi semoga aja kado dari gue ini bermanfaat.” Katanya kepadaku manis.
Aku hanya bisa tersenyum kecil dan berpikir keras. Ya Allah betapa bodohnya aku ini, sungguh aku merasa aku adalah wanita muslim yang hina dengan teguran ini. Kenapa harus Rendi yang menyadarkanku tentang arti sehelai jilbab yang sesungguhnya. Rambut adalah sebuah mahkota kecantikan wanita, namun akan lebih berharga lagi kalau sebuah mahkota itu dilindungi dengan iman dan islam yang sesungguhnya. Sungguh Maha Besar Mu ya Allah yang telah mendatangkan teguran kecil dari surgamu ini. 



SITI HORIAH Yogyakarta

Hijab Penuntun Jalan Kebaikan

Aku mulai memakai jilbab awal tahun 2009, tepatnya saat tepatnya saat memasuki SMA. Sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk berhijab. Karena keluargaku memang bukan dari keluarga islami yang terbiasa berhijab, melainkan keluarga Jawa yang masih kental. Aku pun sekolah sampai tingkat SMP tidak berhijab. Selain itu aku selalu membuat hiasan dengan rambutku. Rambutku yang lurus, hitam, serta lebat membuatku ingin memperindahnya. Sejak kecil ibuku selalu menata rambutku sebelum berangkat sekolah. Entah berapa lama kegiatan itu terjadi. Kebiasaan itu membuat diriku sangat menyukai aksesoris yang menghiasi rambut. Sehingga tak heran jika aku tak pernah berfikir untuk menutupi rambut indahku ini dengan jilbab. Jika memakai jilbab pasti tak bisa memakai aksesoris. Itulah pikiranku saat itu.
Entah hal apa yang membuat aku berhijab, niat ikhlas kah aku? Atau hanya ingin meniru teman-temanku. Saat itu memang aku memiliki niat berhijab agar bisa berubah menjadi lebih baik, tapi di sisi lain aku juga meniru teman-temanku. Sehingga yang terjadi aku hanya berhijab saat pergi ke sekolah saja, tapi apabila pergi ke luar masih tidak berhijab.
Tak terasa sudah tiga tahun aku berhijab. Tentunya dengan begitu banyak cobaan serta rayuan yang kudapat. Dengan memakai jilbab, hatiku merasa lebih tentram dan nyaman. Perilaku juga lebih terarah sejak berhijab. Aku lebih berhati-hati dalam berperilaku. Karena aku malu pada diri sendiri, jika berhijab tetapi perilakunya tidak baik. Selain itu, aku juga lebih mendekatkan diri kepada Allah sang pencipta daripada sebelum berhijab. Hijab memberi kebaikan pada diriku.
Mulai saat ini aku berkeyakinan bahwa jilbab bukanlah penghalang untuk tetap berprestasi. Aku selalu berhijab saat keluar rumah, tak seperti dulu. Aku pun masih bisa berekspresi dengan hijabku, dengan model yang lucu-lucu gayaku masih tetap stylish. Dengan niat serta keikhlasan yang mendalam untuk bisa menjadi yang lebih baik, hijab akan selalu mengantarkan ke jalan kebaikan.



Dewi Retno Ambarwati Kudus

Rambut Lurusmu Kemana?

Nunu el Fasa Sidoarjo

Saat SMA, ngetrend rambut rebonding. Termasuk aku yang pengen banget rambut lurus. Apa boleh buat, rebonding masih diatas seratus 200-300 ribu. Kala itu uang sakuku sebagai anak kost, 40-50 ribu satu minggu termasuk untuk makan sehari-hari.

Dari uang tersebut aku menyisakan sedikit demi sedikit untuk kutabung. Jangan harap bisa cepat terkumpul. Kadang uang sakuku kurang dan terpaksa pinjam ke teman sampai timbul kebiasaan tambal sulam. Akhir minggu pinjam, awal minggu dapat uang saku untuk bayar, akhir minggu pinjam lagi, begitu seterusnya. Sangat sulit hanya untuk mengumpulkan uang, butuh waktu satu tahun, dari kelas dua ke kelas tiga SMA.

Ketika kurasa sudah cukup aku menemui Mbak Nunuk (pakai 'k") yang bekerja di depot dan pernah cerita tentang salon murah langganannya. Tapi Mbak Nunuk mencegah, menyayangkan uangku sebanyak itu daripada untuku rebonding mending untuk membeli buku. Aku menolak karena perjuangan setahun tak mungkin aku menggagalkannya.

Saking sayangnya kepadaku, Mbak Nunuk merelakan catokan pelurus rambutnya dipinjamkan kepadaku. Aku menyambutnya gembira. Itu artinya aku tak perlu mengeluarkan uang untuk meluruskan di salon. Sepulang dari depot, langsung aku pakai dibantu teman kost. Rambutku menjelma jadi cantik dan menawan.

Dan benar saja, bukan hanya cowok yang kutaksir yang mengalihkan pandangannya kepadaku, tapi semua orang termasuk guru memujiku. Aku jadi pusat perhatian seharian itu. Tak nyaman, biasanya aku yang melihat dan curi-curi pandang dari balik lubang, justru aku merasa tidak PD. Beginikah rasanya menjadi pusat perhatian? Aku menjadi salah tingkah bagaimana menutupi rambutku, dengan tangan, tas atau buku. Jika dalam film warkop DKI, mirip dengan adegan sewaktu bajunya hilang dan bingung menutupi kemaluannya. Ya rambutkulah kemaluanku.

Dan dalam satu hari itu terjadi perubahan besar, setelah tampil dengan rambut lurusku, keesokannya justru aku tampil dengan kerudung ke sekolah. Dengan uang tabunganku untuk meluruskan rambut, justru berubah bentuk menjadi hijab. Beruntung punya mbak kost yang baik hati, mau berbagi seragam hijabnya untuk kupinjam dahulu. Subhanallah, jangankan yang lain aku sendiri heran. Rambut lurus itu yang begitu aku idamkan kian dipertanyakan semua orang. Bagaimana mungkin aku menutupinya? Ya, itu tak lebih aku tak ingin semakin banyak orang melihat kemaluanku.